Bali in General
Geografis Bali
Bali terletak pada 8 derajat 03′40″ – 8 derajat 50′48″ Lintang Selatan dan 114 derajat 25′53″ – 115 derajat 42′40″ Bujur Timur, dengan luas wilayah 563.286 ha. Utara pulau Bali ada Laut Bali, Selatan Samudra Indonesia, Timur Selat Lombok (Provinsi NTB), dan sebelah barat ada Selat Bali (Provinsi Jawa).
Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi 8 kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota provinsi. Selain Pulau Bali Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng.
Gunung yang ada di Bali
- Gunung Merbuk, dan Gunung Mesehe, yang berlokasi di bagian barat Bali.
- Gunung Beratan, di lerengnya terdapat danau Bratan. Area resor Bedugul terletak di tepi danau Bratan. Juga di situ terletak kuil Ulundanu. Gitgit yang terkenal dengan air terjunnya terletak sedikit ke arah utara dari Gunung Bratan.
- Gunung Batukaru yang terletak agak ke arah selatan dari Gunung Beratan dan terdapat pura Batukaru.
- Gunung Batur, merupakan kawah gunung berapi yang sekarang menjadi danau Batur. Daerah Kintamani berlokasi di kaki Gunung Batur. Anda bisa menyeberang melewati Danau Batur menuju Desa Trunyan, tempat penduduk Bali Aga. Meletus 26x dari 1809 – 2000.
- Gunung Seraya, terletak di bagian paling timur pulau Bali, Gunung Bali terletak dekat Taman Air Tirtagangga.
- Gunung Agung, dikenal sebagai gunung yang paling tinggi puncaknya dan paling dikenal dengan tinggi lebih dari 3100 meter. Terakhir meletus pada tahun 1963. Yang unik, semua pura di Pulau bali berkiblat pada Gunung Agung ini. Di Gunung ini juga merupakan lokasi dari pura utama yaitu Pura Besakih.
Demografi
Penduduk Bali kira-kira sejumlah 4 juta jiwa, dengan mayoritas 80% menganut agama Hindu. Agama lainnya adalah Budha, Islam, Protestan, dan Katolik
Pekerjaan selain sektor pariwisata, penduduk Bali juga hidup dari pertanian dan perikanan. Sebagian juga memilih menjadi seniman.
Bahasa yang digunakan di Bali adalah bahasa Indonesia, Bali dan Inggris khususnya bagi yang bekerja di sektor pariwisata. bahsa Bali dan bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling luas pemakaiannya di Bali, dan sebagaimana penduduk Indonesia lainnya, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual.
Transportasi
Bali tidak memiliki jaringan rel kereta api. Sebagian besar penduduk memiliki kendaraan pribadi dan memilih menggunakannya karena transportasi umum tidak tersedia dengan baik, kecuali taksi.
Jenis kendaraan umum di Bali antara lain
- Dokar, kendaraan dengan menggunakan kuda sebagai penarik
- Ojek, taksi sepeda motor
- Bemo dan Taxi, melayani dalam dan antarkota
- Bus, melayani hubungan antarkota, pedesaan, dan antarprovinsi.
Bali terhubung dengan Pulau Jawa dengan layanan kapal Ferry yang menghubungkan Pelabuhan Gilimanuk dengan Pelabuhan Ketapang di Kabupaten Banyuwangi, yang lama tempuhnya sekitar 30 hingga 45 menit. Penyeberangan ke Pulau Lombok melalui Pelabuhan Padang Bay menuju Pelabuhan Lembar, yang memakan waktu sekitar empat jam.
Transportasi udara dilayani oleh Bandara Udara I Gusti Ngurah Rai.
Agama, Adat dan Budaya
Di Bali dikenal satu bait sastra yang intinya digunakan sebagai slogan lambang negara Indonesia, yaitu: Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Manggrua, yang bermakna ‘Kendati berbeda namun tetap satu jua. Bisa dipahami jika masyarakat Bali dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain seperti Islam, Kristen, Budha, dan lainnya. Pandangan ini merupakan bantahan terhadap penilaian sementara orang bahwa Agama Hindu memuja banyak Tuhan. Kendati masyarakat Hindu di Bali menyebut Tuhan dengan berbagai nama namun yang dituju tetaplah satu, Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, yang disebut Tri Murti, kendati terpilah tiga, namun terkait satu jua sebagai proses lahir-hidup-mati atau utpeti-stiti-pralina. Dewata Nawa Sanga sebagai sembilan Dewata yang menempati delapan arah mata angin dan satu di tengah kendati terpilah sembilan lalu menjadi sebelas tatkala terpadu dengan lapis ruang ke arah vertikal bawah-atas-tengah atau bhur-bwah-swah, adalah satu jua sebagai kekuatan Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Demikian pula halnya dengan nama dan sebutan lain yang dimaksudkan secara khusus memberikan gelar atas ke-Mahakuasa-an Tuhan.
Keyakinan umat Hindu terhadap keberadaan Tuhan/Hyang Widhi yang Wyapi Wyapaka atau ada di mana-mana juga di dalam diri sendiri – merupakan tuntunan yang selalu mengingatkan keterkaitan antara karma atau perbuatan dan pahala atau akibat, yang menuntun prilaku manusia ke arah Tri Kaya Parisudha sebagai terpadunya manacika, wacika, dan kayika atau penyatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.
Umat Hindu percaya bahwa alam semesta beserta segala isinya adalah ciptaan Tuhan sekaligus menjadi karunia Tuhan kepada umat manusia untuk dimanfaatkan guna kelangsungan hidup mereka. Karena itu tuntunan sastra Agama Hindu mengajarkan agar alam semesta senantiasa dijaga kelestarian dan keharmonisannya yang dalam pemahamannya diterjemahkan dalam filosofi Tri Hita Karana sebagai tiga jalan menuju kesempurnaan.
Pelaksanaan berbagai bentuk upcara persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa oleh umat Hindu disebut Yadnya atau pengorbanan/korban suci dalam berbagai bentuk atas dasar nurani yang tulus. Pelaksanaan Yadnya ini pada hakekatnya tidak terlepas dari Tri Hita Karana dengan unsur-unsur Tuhan, alam semesta, dan manusia.
Didukung dengan berbagai filosofi agama sebagai titik tolak ajaran tentang ke-Mahakuasa-an Tuhan, ajaran Agama Hindu menggariskan pelaksanaan Yadnya dalam lima bagian yang disebut Panca Yadnya, yang diurai menjadi:
- Widhi Yadnya
Persembahyangan yang dilakukan secara langsung kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa tanpa perantara (meditasi). Kalau dalam Islam sering dikenal dengan wirid.
- Dewa Yadnya
Persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Upacara Dewa Yadnya ini umumnya dilaksanakan di berbagai Pura, Sanggah, dan Merajan (tempat suci keluarga) sesuai dengan tingkatannya. Upacara Dewa Yadnya ini lazim disebut sebagai piodalan. - Pitra Yadnya
Penghormatan kepada leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, yang melahirkan, memelihara, dan memberi warna dalam satu lingkungan kehidupan berkeluarga. Masyarakat Hindu di Bali meyakini bahwa roh leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, sesuai dengan karma yang dibangun semasa hidup, akan menuju penyatuan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Keluarga yang masih hiduplah sepatutnya melaksanakan berbagai upacara agar proses dan tahap penyatuan tersebut berlangsung dengan baik. - Manusia Yadnya
Suatu proses untuk memelihara, menghormati, dan menghargai diri sendiri beserta keluarga inti (suami, istri, anak). Dalam perjalanan seorang manusia Bali, terhadapnya dilakukan berbagai prosesi sejak berada dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, menikah, beranak cucu, hingga kematian menjelang. Upacara magedong-gedongan, otonan, menek kelih, pawiwahan, hingga ngaben, adalah wujud upacara Hindu di Bali yang termasuk dalam tingkatan Manusa Yadnya. - Bhuta yadnya
Prosesi persembahan dan pemeliharaan spiritual terhadap kekuatan dan sumber daya alam semesta. Agama Hindu menggariskan bahwa manusia dan alam semesta dibentuk dari unsur-unsur yang sama, yaitu disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari Akasa (ruang hampa), Bayu (udara), Teja (panas), Apah (zat cair), dan Pertiwi (zat padat). Karena manusia memiliki kemampuan berpikir (idep) maka manusialah yang wajib memelihara alam semesta termasuk mahluk hidup lainnya (binatang dan tumbuhan).
Selain itu yang juga menjadi ciri khas Bali yaitu adanya Kasta dan nama yang dimiliki oleh orang Bali.
Dibali mengenal 4 Kasta (pengelompokan berdasarkan pekerjaan) yang berasal dari India, yaitu :
- Brahmana, pekerja dibidang rohani (pendeta/penasehat spiritual), Nama biasanya diawali dengan Ida Bagus (pria) dan Ida Ayu (wanita)
- Ksatria, yang memegang pemerintahan, Nama biasanya diawali dengan Anak Agung atau Cokorda (pria) dan Anak Agung Ayu atau Cokis (wanita)
- Waisya, para pedagang, pemegang perekonomian, Nama biasanya diawali dengan I Gusti Ngurah (pria) dan I Gusti Ayu (wanita)
- Sudra, kaum pelaksana / pesuruh. Anak pertama, Wayan / Putu. Anak kedua, Made / Kadek. Anak ketiga, Nyoman / Komang. Anak keempat, Ketut. Anak kelima balik lagi ke no satu + ‘balik ‘dan seterusnya ex: Wayan Kopler Balik
Struktur Kasta zaman dahulu di diorganisir dengan sangat ketat, mulai dari pemberian nama dan gelar status sosial, perkawinan, warisan, wilayah kekuasaan, mata pencaharian, kewenangan dalam pemerintahan, dan hak memanfaatkan tenaga kerja.
Setelah kerajaan-kerajaan di Bali runtuh, kemudian Indonesia menjadi negara Republik, hak-hak kebangsawanan mereka dengan sendirinya hilang. Terutama di era globalisasi sekarang ini, terjadi banyak perubahan status dan perekonomian. Banyak kaum Sudra yang sukses dan berhasil dalam perekonomian, dan ada kaum Triwangsa (Brahmana, Ksatria dan Waisya) yang mengalami kemunduran perekonomian. Begitu juga dengan pernikahan, banyak terjadi pernikahan antara kaum Sudra dengan kaum Triwangsa, yah namanya juga cinta, bisa terjadi sama siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Ini mungkin karena kaum Sudra memiliki motivasi tinggi dan ingin maju dengan didorong ajaran Tat Twam Asi, yaitu ‘Aku adalah kamu, kamu adalah aku’. Namun demikian titel-titel nama depannya masih digunakan, untuk mengenang kejayaan masa lalu, menghormati leluhur, adat istiadat atau tradisi yang sudah menjadi habit.
Tinggi rendahnya status sosial seseorang di masyarakat ditentukan pada peranan pengabdiannya kepada kepentingan masyarakat, bukan pada embel-embel predikat nama itu.
Kasta adalah soal interen tradisi bagi masyarakat Bali, dan bukan semata-mata masalah agama. Jangan dicampur-adukkan dengan agama. Namun yang penting sekarang apapun nama (gelar) yang kita miliki semua pihak harus mengedepankan etiket, saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai antara satu dengan yang lainnya.
No Doubt
when all efforts are not considered
when love and affection was channeled
you only see the bad side, oblivious to the good side
well maybe you were comparing me to him
we will never succeed if you like all the time, specify your choice
me or him, if still in doubt do not ever select me
Mr. Cuek vs Mrs. Care
Emang salah yah orang cuek?? Blum tentu juga kan kalo orang cuek itu ga peduli, ga mo tahu dan ga sayang.
Kenapa juga ada orang yg selalu ingin diperhatiin tiap saat? emang perhatian tuh harus diucapkan, ditunjukin??
Sayang, cinta, peduli, dan perhatian, itu smua ga perlu harus berupa sebuah kata melainkan sikap dan perasaan. “Lidah bisa bohong tapi rasa ga bisa bohong” mang bner tuh iklan. Buat pa kita blang sayang, bilang peduli kalo asli na kita ga sayang.
Tiap orang punya cara untuk untuk menunjukkan sayang, ada yg selalu nunjukin dengan kata – kata da juga yg cukup mandang mata n bersyukur untuk memilikimu.
Jarang kluar ma temen seperti dulu, tiap km minta ketemu ak slalu ada, ak bisa sabar dengan smua tingkah tmen2 mu, ak bisa terima keadaanmu sekarang, ak bisa sabar wlopun km jarang bs penuhi keinginanku untuk jln breng.
Tiap ada event / acara ak selalu ngajak km tapi ga pernah bs. tiap km ma tmn2mu ak ga prnh diajak, ak slalu ngajak km tiap ak ma tmn2 ku. Aku ngerti km susah kluar dengan kondisi sekrang, itu sebabnya ak selalu nunggu km yg ngajakin. Coba km ingat apa ak pernah nolak?? Aku sering ngeluh kalo kita ketemu cm bentar, tp ak tetep smangat n haragai usahamu. Itu km masih anggap ak ga pernah dluan ngajak km, ak ga peduli ma km??
Alasanku ganti hp yaitu ak pgn cari hp yg pake keypad so ak bs tetep sms-an walopun lg djalan, naek motor, lg da kelas, lg dkantor, lg training jd ak bs ngetik msg tanpa liat hp trus. Dulu aku tetep taruh hp dkantong walopun case hp ku dah ga da, itu jg demi km. Kamu mungkin anggap ini biasa ja, tapi ini salah satu bentuk sayang n peduliku sama kamu.
Aku sakit hati waktu km bilang “Ga mau, ntar hp ku rusak”. cuma taruh hp dkantong padahal. Aku suru ganti hp yg jlek km jg nolak.
OK, mungkin ak ga bs jd Cowok yg selalu sms km duluan ngajakin ketemu, selalu ngucapin sayang n cinta dan ngertiin kamu sepenuhnya. Kamu masih punya waktu kok untuk milih.
Golden is Silent
Sovereign Surya
Uluwatu Kecak
Okelan kalo begitu, berhubung selasa dapet tugas presentasi tour “Uluwatu Kecak“. kenapa ga coba cari bahan trus bikin rangkuman dsini skalian biar da bahan tulisan
Pura Uluwatu
Pura Luwur Uluwatu merupakan salah satu dari 6 Pura Sad Kahyangan di Bali. Sad artina enam, Sad Kahyangan adalah 6 pura yg merupakan sendi - sendi pulau Bali . Uluwatu terletak di Desa Pecatu Kecamatan Kuta ksekitar 20 km dari Sanur ke arah Selatan. Pura Uluwatu terletak di atas bukit karang yg menjorok kelaut dengan ketinggian kurang lebih 80 meter dari permukaan laut. Oleh karena itu disebut Uluwatu Ulu yang artinya ujung atau kepala dan watu artinya batu atau karang.
Pembangunan Pura Uluwatu diawali oleh Mpu Kunturan pada abad ke 11. Pada abad ke 16 Danghyang Nirartha melakukan kunjungan – kunjungan ketempat suci, setibana di Uluwatu beliau mendapatkan bisikan jiwa bahwa tempat itu baik untuk memuja Tuhan. Berdasarkan pertimbangan tersebut Danghyang Nirartha memperluas pambangunan Pura Uluwatu dan memlilih tempat tersebut untuk Ngaluwur “kembali ke asal (moksa)”. Kunjungan kedua beliau melepas moksa di Uluwatu dan disaksikan oleh nelayan bernama Ki Pasek Nambangan, beliau bagaikan kilat berupa cahaya masuk ke angkasa.
Disebelah timur pura terdapat alas kekeran (hutan larangan) yang dihuni banyak kera.
Hati – hati dengan perhiasan terutama anting, jangan membawa barang yang tidak perlu, sebaiknya ditinggal dimobil. jaga jarak dengan kera dan hati – hati dengan kacamata dan kamera kesayangan. Tenang, walaupun monyet nakal ini berhasil mencuri n merampas dari kita, ada penjual kacang yang akan membantu kita untuk mendapatkan kembali dengan menukarkan kacang dengan barang kita, eits jangan lupa tips atas bantuan si penjual yah.
Setiap pura pasti memiliki candi bentar (gapura) yang bila disatukan akan berbentuk seperti gunung, namun candi bentar Uluwatu memiliki sayap. Candi bentar bersayap sangat jarang ditemukan, ini merupakan kombinasi bali dan jawa (desa Sendangduwur, Lamongan) wah kota na abah Bnu nih heheh….
Sebelum masuk Pura kita diwajibkan mengenakan sarung dan selendang, dimana sarung berfungsi untuk menutupi bagian bawah yaitu bagian tidak suci dan selendang sebagai pembatas antara bagian suci dan tidak suci. Untuk wanita yang sedang haid / menstruasi tidak bisa masuk kedalam pura karena dianggap kotor. Inget juga untuk tidak membawa barang – barang yang tidak perlu.
Tari Kecak
Pada pukul 6 - 7 malam ada pertunjukan Tari Kecak (Apen Dans) atau tarian kera. Wayan Limbak dan pelukis Walter Spies (Jerman) menciptakan tarian ini berdasarkan kisah Ramayana dan tradisi Sanghyang yaitu tradisi tarian yang penarinya berada dalam kondisi tidak sadar. Tari Kecak tidak diiringi musik, dengan irama tertentu menyerukan “cak” sembari mengangkat tangan para penari yang duduk melingkar. Selain para penari itu, terdapat pula penari yang memerankan tokoh Ramayana yaitu Rama, Sita, Hanoman, Laksamana dan Rahwana.
Cerita Ramayana merupakan kisah percintaan mirip dengan Romeo dan Juliet. Ramayana berasal dari kata Rama dan Ayana yang berarti perjalanan Rama. bermula dari kerajaan Kosala yang berada disebelah utara Sungai Gangga ibukotanya Ayodhya. Rama dan Laksamana pergi kehutan untuk melindungi pertamaa Rsi kerajaan dari gangguan raksasa. Selama perjalanan Rama melewati Mithila dan mengikuti sayembara yang diadakan oleh Prabu Janaka. Rama berhasil memenangkan sayembara dan mempersunting Dewi Sita dan kembali ke Ayodhya. Namun setelah kerajaan di pimpin oleh Bharata sodara tiri Rama. Rama, Sita dan Laksamana harus meninggalkan kerajaan dan tinggal dihutan.
Selama dihutan mereka banyak bertemu raksasa, salah satunya yaitu Rahwana. Rahwana kesulitan mengalahkan Rama dan Laksamana karena kesaktiannya, akhirnya Rahwana mengutus anak buahnya menyamar jadi Kijang Kencana (Kijang mas). Sita ingin memiliki kijang itu dan meminta Rama untuk menangkapnya. Rama pergi memburu kijang itu, setelah sekian lama terdengar jeritan kijang yang terkena panah Rama namun suaranya mirip dengan suara Rama. Sita khawatir dengan suaminya dan menyuruh Laksamana untuk mencari Rama, Sebelum pergi Laksamana membuat lingkaran yang membentengi Dewi Sita. Setelah Laksamana pergi Rahwana datang untuk menculik Sita tapi terhalang oleh lingkaran pagar pelindung. Karena gagal menembus pagar tersebut akhirna Rahwana menyamar menjadi seorang kakek tua yang membutuhkan pertolongan. Dewi Sita merasa kasihan dan mengulurkan tangannya, akhirna Rahwana berhasil menculik Sita dan membawanya ke Kerajaan Alengka Pura. Dalam perjalanan Rahwana bertemu dengan Jatayu (Garuda Kencana), namun Jatayu kalan dalam perkelahian karena sayapnya putus. Sebelum mati, Jatayu sempat memberi tahu Rama bahwa istrinya diculik oleh Rahwana dan dibawa ke Alengka Pura.
Dalam perjalanan menuju Alengka, Rama bertemu dengan Sugriwa yang telah dibantu oleh Rama untuk merebut kerajaan dari kakaknya Subali. Demi membalas jasa Rama, Sugriwa bersekutu dengan Rama dan dibantu dengan Hanoman untuk menggempur Alengka. Hanoman dan wanara (prajurit kera) diutus mencari Sita, akhirna Hanoman dengan kesaktiannya terbang ke Kerajaan Alengka. Hanoman menyamar menjadi monyet kecil dan mencari Sita, setelah bertemu ternyata Sita curiga, lalu Hanoman menunjukkan cicin Rama pada Sita, Hanoman mengajak Sita untuk pergi tapi Sita menolak dan mengharapkan Rama datang sebagai kesatria dan menyelamatkannya lalu Sita memberikan tusuk konde / jepit rambutnya kepada Hanoman. Sebelum meninggalkan istana Hanoman memporak porandakan istana dan membakar istana tersebut dengan ekornya yang telah dibakar oleh Rahwana. Setelah Alengka menjadi lautan api Hanoman pergi memberitahu keberadaan Sita. Rama, Laksamana, dan Hanoman menuju Alengka dan menyebrangi lautan yang dibuat oleh wanara. Wibisana adik Rahwana bersekutu dengan Rama karena diusir oleh Rahwana. Akhirna Kerajaan Alengka berhasil ditaklukkan bersamaan dengan kalahnya Rahwana. Dewi Sita kembali ketangan Rama dan kerajaan Alengka Pura dipimpin oleh Wibisana.
Alengka Pura kini terkenal dengan nama SriLangka. Dan jembatan yang menghubungkan India (Pamband Island) dan Srilangka (Manand Island) terkenal dengan Jembatan Rama / Jembatan Adam (Adam/Rama’s Bridge). Rama Bridge merupakan salah satu “Mysterious Places in the World’s” jembatan purba misterius sepanjang 18 mil (30 Km) dan diperkirakan telah berumur lebih dari 1.000.000 tahun. Citra dari Rama Brige sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut). Status dari jembatan tersebut masih merupakan misteri hingga saat ini, menurut tafsiran para ahli, diperkirakan Rama Bridge erat kaitannya dengan Epos terkenal India, Ramayana.






2 comments